Watu Amben, Salah Satu alternatif tempat untuk menikmati keindahan senja di Jogja

 

Tidak tersa sudah akhir pekan saja ini, baru sadar juga akhir pekan ini saja sudah di Jogja, masih berasa di Bromo saja saya :D, sore di akhir pekan ini mau kemana kira-kira? Bukit hargodumiah sepertinya menyenangkan, tetapi…

Berhubung Bukit Hargodumilah atau lebih terkenal dengan nama bukit bintang di kalangan anak muda Jogja  kurang menyenangkan menurut saya, kami pindah ke Bukit Watu Amben yang lebih sepi dan belum banyak asap kendaraan. Dari bukit bintang Saya dan Anggit berjalan mengikuti jalan utama , sampai di perempatan kalau kiri sampai di Gunung Api Purba Ngelanggeran, kalau lurus sampai Kota Wonosari, nah kita pilih yang ke kanan menuju jalan Patuk-Dlingo / Patuk-Pleret, jalan ini searah juga dengan Pinus Pangger. 

Setelah melewati tanjakan kami menemukan beberapa warung-warung  yang menjajakan makanan dan menyediakan tempat untuk melihat matahari terbenam (jadi tinggal pilih mana yang sesuai dengan keinginan kita). Kami memilih salah satu dari warunng tersebut yang kami rasa pas untuk melihat matahari terbenam dan melihat merapi.  Menu yang di tawarkan di tempat kami adalah kopi-kopian, aneka mie-mie, nasi goreng, belum ada menu ayam dan lain-lain tetapi yang menarik di warung yang kami pilih adalah ada wifi :D.

Pesanan kami datang juga, berhubung kami sudah terlalu lapar jadi tidak sempat untuk mengambil gambarnya, selamat makan… Setelah makan otak kembali berjalan dengan semestinya, saatnya untuk membuat timelapse dengan hp yang biasa saya pakai ini, sambil menikmati terbenamnya matahari dan sedikit belajar mengetik agar blognya tetap ada artikel baru :D. Mungkin Tuhan belum merestui kami untul melihat matahari tenggelam denga sempurna sore ini, karena tertutup dengan awan dan merapi juga ikut berselimut dengan awan, tapi itu tidak mengurangi indahnya sore ini.

Jingga mulai berganti menjadi hitam, suhu juga sudah semakin turrun dan pasangan yang hendak menghabiskan malam minggu juga sudah mulai berdatangan, mungkin sudah saatnya kami pulang ke rumah untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai, halah. Kesimpulannya adalah saya lebih senang menghabiskan waktu melihat senja disini daripada di bukit hargodumilah karena disini lebih sepi dan belum banyak asap kendaraan bermotor (mungkin karena bukan jalur utama), untuk masalah pemandangan yang di lihat 90% sama dengn pemandangan yang kita lihat di bukit harrgodumilah, tetapi yang membuat saya kurang nyaman di sini adalah, belum banyak tersedianya toilet (kata mas pemilik warung, toiletnya baru dalam proses pembuatan). Mungkin sampai di sini dulu cerita saya melihat matahari ter benam kali ini, sampai jumpa di cerita selanjutnya :D.

Enjoy your trip

travel note:

  • kalau datang terlalu siang banyak warung yang belum buka, mungkin hanya beberapa saja yang buka. kebanyakan warung di sini buka mulai dari pukul 4.30 sore.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s