Jalan-Jalan Ramadhan (4): teng-tengan, Mainan Khas Ramadhan dari Semaerang

Ramadhan memang sudah mendekati akhir, suara-suara anak-anak latihan takbiran juga sudah mulai terdengar kecang dari luar kamar. Mau update apa minggu ini untuk konten ramadhan, setelah berselancar diinternet, ketemu juga akhirnya yang menarik untuk update blog yang jarang update ini :D. Teng-tengan lah pilihan saya.

Berhubung teng-tengan hanya ada di Semarang jadi berangkatlah saya ke Semarang. Kali ini saya memilih menggunakan kendaraan umum dibandingkan naik sepeda motor karena tinggal duduk saja kalau naik bus. Berangkatlah saya pagi menjelang siang ini menggunakan bus ramayana. Setelah 3 jam lebih duduk didalam bus sampailah saya di terminal sukun. Untuk menuju lokasi pembuat teng-tengan, hari ini saya diantar oleh Ani yang ternyata belum mudik :).

Jalanlah kami menuju Purwosari, Perbalan, Semarang Utara yang merukapan salah satu tempat pembuatan teng-tengan. Sebelum sampai dilokasi, sempat bertanya kebeberapa orang, sempat juga melawan arah (untungnya tidak ada pak polisi yang tahu :D), setelah sampai di Purwosari kami bertanya ke penjahit baju pinggir jalan, kemudian kami langsung di arahkan ke rumah Pak Junarso. Alhamdulilah sudah dekat dengan lokasi yang kami tuju, tidak lebih dari 10 menit kami sudah sampai di rumah beliau. Setelah bertemu ternyata beliau sedang tidak membuat, kurang tahu juga alasannya kenapa. Tetapi kami disuruh ke tempat tetangganya yang juga membuat teng-tengan.

Sampai dirumah bapaknya (lupa namanya :D), ternyata bapak ini juga sedang tidak membuat teng-tengan karena bapak ini membuat teng-tengan saat malam hari saja. Sayang ya tidak bisa melihat proses pembuatannya :(, untungnya sudah ada tengtengan yang sudah selesai :D.

Teng-tengan bentuknya mirip lampion, berbentuk persegi delapan, terbuat dari bilah bambu dan kertas putih. Pada bagian tengah rangka diletakkan lengkung kulit bambu, berfungsi sebagai sumbu, tempat gambar-gambar kertas dilekatkan. Di atasnya ada kipas yang terbuat dari kertas koran. Jika api lilin yang ada di dasar damar disulut, kipas itu akan bergerak didorong oleh asap yang keluar. Kalau kipas berputar, gambar-gambar kertas yang ada di bawahnya juga turut berputar, dari luar akan terlihat, bayangan kerbau, naga, petani, gerobak, penari, burung, becak, bahkan pesawat tampak bergerak.

Setelah selesai mengobrol kami berpamitan untuk melanjutkan perjalanan kembali, sebenarnya saya mau beli untuk dipajang dirumah tetapi berhubung bawanya lumayan susah, jadi ya tidak jadi beli :D, maaf ya pak :).

Ayo An, mengelilingi Semarang menikmati surya yang perlahan mulai menghilang 🙂 :D.

Travel note:

  • Pengrajin teng-tengan di semarang hanya tinggal Pak Junarso dan tetangganya saja

 

Cerita lain jalan-jalan ramadhan:
– Jalan-Jalan Ramadhan (1): Kicak, Jajanan Khas Ramadhan dari Pasar Sore RamadhanKauman
– Jalan-Jalan Ramadhan (2): Bubur Lodeh, Menu berbuka Puasa Khas Masjid Sabiilurrosyaad
– Jalan-Jalan Ramadhan (3): Berbuka Puasa Dengan Bubur Samin di Masjid Darussalam
– Jalan-Jalan Ramadhan (4): teng-tengan, Mainan Khas Ramadhan dari Semarang

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s