Jalan-Jalan Ramadhan (3): Berbuka Puasa Dengan Bubur Samin di Masjid Darussalam

Hari ini mau jalan kemana? mungkin merealisasikan renana untuk melihat dan menikmati bubur samin Masjid Darussalam Jayegan menarik sepertinya, sudah lama juga rencana ini belum juga terlaksana. berangkatlah saya ke Solo dengan naik kereta.

Sampai di Stasiun Purwosari ternyata saya sudah ditunggu Mirza yang kan mengantarkan saya sekaligus menjadi guide hari ini (tumben dia ontime, tidak seperti saat perjalanan ke Candi Sukun kemarin). Berangkatlah kami menuju Masjid Darussalan. ternyata tidak jauh

Kami sampai Masjid Darusalam kurang lebih jam 12 siang, keramaian sudah bisa saya lihat ketika sampai. Sebenarnya keramaian ini mulai terasa dari jam 10 pagi karena panitia sudah mulai memasak air, meracik beragam bumbu rempah seperti bawang merah, bawang putih, kayu manis, jahe, sere, laos, kapulaga Arab dan minyak samin. Bumbu-bumbu rempah yang sudah dimasak, kemudian dimasukkan dalam dandang berukuran besar dan dicampur dengan beras dan air. Hari ini Masjid Darussalam akan memasak 45 kilogram beras menjadi kurang lebih 1.100 porsi bubur samin untuk iftar (makanan untuk berbuka puasa)

Karena mengaduk nasi menjadi bubur merupakan pekerjaan yang melelahkan, ada 6 orang yang silih berganti mengaduk. Setelah dirasa cukup, sayuran wortel, bawang bombay, daun loncang serta irisan daging sapi dimasukkan ke dalam dandang dan tetep kembali diaduk. Aroma wangi dari bubur samin mulai tercium. Bubur samin akhirnya selesai dimasak, dan disisakan kurang lebih 200 porsi untuk berbuka puasa di Masjid Darussalam.

Sebagai pasangan bubur hari ini adalah sambal goreng, karena tidak setiap hari pasangan akan berbeda. Sambal goreng terdiri dari cabai, brambang, bawang, samalm, laos, garam, gula, krecek, waluh jipang, dan kacang tolo.

Selepas sholat ashar warga mulai berduyun-duyun mendatangi Masjid Darussalam untuk meminta bubur samin yang lezat ini. Mereka datang dengan membawa rantang, mangkok ataupun piring yang akan digunakan untuk membawa bubur pulang kerumah. Bukan hanya warga sekirar yang datang untuk meminta atau merasakan bubur ini, bahkah ada yang dari Sukoharjo, Boyolali, Semarang, atau dari jogja seperti saya. Warga berbaris antre untuk mendapatkan bubur samin, tidak lama dari waktu dimulainya pembagian bubur samin khas Masjid Darussalam ini, bubur sudah habis dibagikan kepada warga bahkan ada juga yang kehabisan.

Jam sudah menunjukan pukul 5 jamaah berbuka puasa mulai berdatangsn ke Masjid Darussalam. Bubur samin, sambel goreng, dan kurma mulai di tata diatas piring, untuk di hidangkan kepada jamaah. Kopi susu yang menjadi teman dan juga sudah mulai dibuat. Satu persatu ditata untuk para jemaah, yang saya suka adalah cara menatanya yang saling berhadapan. Waktu berbuka tiba juga, selamat berbuka bagi yang merayakan, selamat makan :). Setelah mencicipi bubur samin ini, tidak heran banyak warga yang antri untuk meminta bubur samin masjid darusalam ini. Rasanya itu lho…

Sedikit cerita tentang asal usul menu bubur samin di Masjid Darussalam dariΒ Pak HM Rosyidi Muchdlor:
“Tempat ibadah bagi umat Islam itu semula berupa langgar yang didirikan pada tahun 1907 oleh para saudagar dan pengrajin batu mulia berasal dari Martapura, Banjarmasin. Para perantau untuk berdagang asal Kalimantan itu di Kota Solo kemudian berinisiatif membangun langgar di Jayengan. Langgar Jayengan yang dibuat oleh para pengrajin batu mulia tersebut semula berupa bangunan terbuat dari anyaman bambu, kemudian menjadi Masjid Darusalam. Pada awalnya menu berbuka puasa ini hanya untuk jamaah Masjid Darussalam saja tetapi seiring berjalannya waktu dan keinginan warga untuk mencicipi bubur samin, bubur samin mulai di bagikan kepada wakra sekitar tahun 1980-an, mulai dari 5 kg beras, 15 kg, hingga saat ini mencapai 45-50kg beras perhari. ”

Setelah selesai makan dan sholat mahrib kami segera bergegas kembali ke Stasiun Purwosari, karena saya sebentar lagi kereta saya berangkat, dan ini adalah kereta ke Jogja terakhir untuk hari ini. Terimakasih mir sudah diantar hari ini, sampai jumpa lagi ya :D.

Enjoy Your Trip.

 

Travel note:

  • jika ingin mencicipi bubur ini datanglah sekitar jam 3, jangan ngaret kalau tidak mau kehabisan. jangan lupa juga bawa tempat untuk bubur, karena panitia tidak menyediakan.

Cerita lain jalan-jalan ramadhan:

 

Advertisements

One thought on “Jalan-Jalan Ramadhan (3): Berbuka Puasa Dengan Bubur Samin di Masjid Darussalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s