Perjalanan Mengabadikan Keindahan Gunung Lawu (1)

_ag72390Ternyata perjalanan terakhir saya naik gunung sudah cukup lama, lebih tepantnya 2-4 Juli 2016 atau kurang beberapa hari sebelum lebaran. Gunung yang berada diperbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan ketinggian 3265 mdpl. Perjalanan ini saya akan saya lalui bersama Mas Widhi (Mas Bek), dan  Mas Marsono. Perjalanan saya mulai dari Jogja sendirian karena mas mas yang lain dari Solo. Rencana ke Solo adalah dengan kereta Pramek, apa boleh buat setelah sampai stasiun kereta sudah berangkat dan kalau menunggu kereta selanjutnya waktunya tidak cukup jadi sala memilih naik bus ke solo. Setelah sampai di terminal yang saya lupa namanya, saya dijemput Mas Bek dan ke SD Pangudi Luhur. Setelah sampai di SD Pangudi Luhur kami Packing dan melanjutkan Perjalanan bersama ke Gunung Lawu. 

img_2152Kami bertiga berangkat dari pintu masuk Cemoro Sewu sekirat pukul 2 siang setelah sebelumnya mengurus administrasi dipintu  masuk pos Cemoro Sewu. Setelah pemanasan kecil perjalanan dimulai.  Langkah pertama memang akan terasa (menurut saya), mungkin karena masih penyesuaian atau kemarin saya belum persiapan, entah. Setelah berjalan kurang lebih satu jam kami tiba di shelter yang sepertinya belum terlalu lama dibangun, karena masih cukup bagus tetapi sudah banyak coretan tangan alay yang kurang bertanggung jawab. Kami menganggap itu pos 1 bayangan, kami beristirahat disini sebentar selagi menunggu Mas Bek memotret 360, kemudian kembali melanjutkan perjalanan lagi.

img_2250Setelah berjalan kembali beberapa ratus langkah akhirnya kami sampai di pos 1. Saya sedikit kaget saat sampai di pos 1 karena ada warung tapi sedang tutup, saya kira warung di Lawu hanya Mbok Yem saja, ternyata banyak (maklum baru sekali melakukan pendakian di Lawu). Di pos 1  kami juga bertemu rombongan dari Magetan (kalau tidak salah) yang kemarin naik dari jalur Cetho dan sekarang turun lewat Cemoro Sewu. Sebenarnya rencana awal kami juga ingin naik dari jalur Cetho tetapi entah kenapa berubah lewat jalur Cemoro Sewu dan turun lewat jalur Cemoro Kandang (berhubung saya yang paling kecil jadi saya ngikut saja 😀 ). Disini kami berhenti lumayan lama untuk sekedar mengobrol dan beristirahat. Bukan Mas Bek namanya kalau tidak “meracuni” keindahan alam Indonesia, sekarang korbannya adalah rombongan dari Magetan ini, racun kali ini adalah milkyway. Dari mereka juga kami mendapat info kalau kalau warung Mbok Yem di Hargo Dalem ternyata sejak 4 hari yang lalu tutup. “Mbok Yem mudik mas” ucap salah satu orang dari rombongan Magetan. Padahal dari bawah tadi rencana kami berangkat hari ini dengan tujuan Hargo Dalem dulu untuk mencicipi pecel  “Tapi warung yang di Sendang Drajat masih buka kok, walau stoknya hanya tinggal mie rebus sama nasi goreng” balas rekan satunya lagi “semoga sampai sana stoknya masih ada dan bapaknya tidak ikut mudik seperti Mbok Yem, amien” doa saya dalam hati.

_ag72043Setelah tenaga kembali terisi, perjalanan menuju pos 2 dimulai kembali. Jalur menuju pos 2 masih batu yang ditata dan cukup landai. Jarak antara Mas Marsono, Mas Bek dan saya “sedikit” jauh. Saat saya beristirahat, saya kembali saya bertemu dengan pendaki yang juga baru mau naik “sendiri mas?” iya mas, “hebat masnya berani naik sendiri” timpal saya. Lumayan senang sebenarnya saya bertemu masnya karena ada teman perjalanan lagi sampai bertemu Mas Marsono lagi. Disini kami beristirahat lagi sambil menunggu Mas Bek sampai, karena hari sudah mulai gelap. Setelah Mas Bek sampai, kami mulai berjalan kembali dengan sudah menggunakan penerangan, berhubung saya tidak punya headlamp saya memakai lampu led dengan tenaga dari powerbank, Mas Marsono memakai headlamp sedangkan mas bek memakai senter hp loh??? Karena batrai yang di bawa hanya dua biji, sedangkan headlamp butuh tiga buah batrai, dan Mas Bek baru sadar kalau sisa batrai masih di Solo dan menempel dicharger. Kami pun berjalan bertiga lagi, hampir sampai di pos 2 (sepertinya), langit sudah berganti dengan ribuan bintang dan milkyway mulai terlihat. Berhubung disitu ada tempat datar saya dan Mas Bek menaruh tas kemudian mengambil tripod setelah itu mulai memotret bintang-bintang, sedangkan mas marsono naik ke atas untuk mengecek pos 2 masih jauh atau tidak. Tidak begitu lama, mas marsono kembali dan mengatakan pos 2 sudah dekat, kami pun bergegas kesana._ag72052

_ag72078-editAkhirnya tenda kami berdiri di pos 2. Pos 2 sangat cerah malam ini langit pun bertabur bintang, milkyway juga terlihat dengan jelas walaupun sebagian tertutup oleh bukit. Mungkin sekarang saatnya momotret untuk memotret selagi cuaca masih bagus, ternyata benar karena tak beberapa lama kabut mulai datang tidak lama berselang rintik-rintik air juga mulai turun. Kami masuk kedalam tenda untuk menghangatkan badan sablil mengobrol, minum kopi dan sesekali keluar melihat cuaca cerah atau tidak dan motret kemudian masuk lagi karena kabut datang menutupi bintang. Semamat malam, selamat tidur, dan selamat berjumpa di dalam mimpi ya “kamu”.

_ag72106-panoAlarm mulai berbunyi dan saya mulai bangun dan keluar dari kepompong, kemudian keluar tenda dengan membawa kamera dan tripot untuk mengabadikan pagi ini (sebenarnya malas sekali untuk bangun pagi lebih enak tidur dan berada di dalam kehangatan kepompong). Ternyata diluar Mas Bek sudah mulai memotret indahnya pagi dengan kamera dan panoheadnya. Sementara itu disamping kami burung-burung berkicau bersautan. Di depan tenda Mas Marsono sudah memasak untuk sarapan kita pagi ini. Setelah selesai memotret kami berkumpul kembali untuk sarapan dan packing untuk melanjutkan perjalanan.

_ag72126Setelah sarapan, bongkar tenda dan tentu saja packing lagi kami melanjutkan tracking menuju pos 3 dan pos pos selanjutnya. Di perjalanan menuju pos 3 saya bertemu dengan rombongan pendaki yang sedikit aneh menurut saya karena tidak membawa kulkas (tas besar), pakaian mereka juga bukan pakaian mendaki dan ada juga yang memakai sandal slop. Track menuju pos 2 juga masih banyak batu yang di tata rapi. Kami bertemu lagi dengan rombongan nyentrik itu lagi di pos 3. Dan ketika kami sampai di pos 3 kami diajak bergabung dan mengisi perut dengan nasi, ikan asin, timun, sayur yang bahan-bahannya di ambil di sekitar pos 3 dan sepanjang perjalanan dan sambal yang pedasnya super :D. Kami sakarang juga tahu barang apa saja yang meraka bawa dengan karung tadi, dan isinya adalah dandang, cobek, pisau dan alat masak lainnya.

_ag72133Tidak terasa ternyata kami di pos 3 lumayan lama ngobrol dengan rombongan nyentrik tadi. Banyak hal-hal baru yang kita dapat dari ngobrol dengan rombongan ini mengenai hidup dan cara menghilangkan rasa takut. Mungkin Mas Bek harus ikut pak kyai di rombongan ini agar tidak takut motret sendiri saat malam. Salut juga dengan salah satu di rombongan ini yang bernama Mas Gunawan, walaupun dia tidak bisa melihat dia sudah sampai sejauh ini. Hebat…

img_2362

img_2375

img_2395

img_2394Perjalanan di mulai kembali, perjalanan menuju pos 4 banyak sekali tanjakannya, untung tadi sudah di isi dengan nasi dan sambal yang josss, tetapi tetep saja terasa capeknya. Naik, naik, naik, semangat semangat, semangat. Dengan semangat dan lumayan ngesot saya sampai juga di pos 4. Buka nata de coco dulu, lumayan untuk menambah semangat sambil menunggu Mas Bek. Setelah Mas Bek sampai dan selesai dengan ritualnya foto panorama 360 kami melanjutkan perjalanan kembali.

_ag72152Pohon-pohon tinggi dan rindang berubah menjadi lahan terbuka dengan tumbuhan perdu khas dataran tinggi. Saat perjalanan menuju pos 5 kami lumayan beruntung karena kabut mulai turun, jadi tidak terlalu terik, dari panas dan terik menjadi sedikit dingin-dingin gimana gitu. Akhirnya sampailah kami di pos 5, sedikit kaget saya ketika sampai do pos 5 karena banyak bangunan yang berdiri berderetan, seru juga ya banyak warung di gunung.  Tapi sayangnya saat kami tiba disana semua warung tutup, mungkin karena beberapa hari lagi lebaran atau munggin bukan musim pendakian. Selagi menunggu Mas Bek yang masih di belakang saya menaruh tas dan mencoba berkeliling disekitar pos 5 siapa tahu menemukan sesuatu. Dari keliling- keliling ini saya menemukan beri-berian (entah ini jenis apa), tapi kata Mas Marsono aman untuk dimakan, lumayan lah untuk sedikit menghilangkan dahaga. Rasanya sedikit manis bercampur masam. Lumayanlah untuk pelengkap makan roti dan keju.img_2434

img_2448Perjalanan dimulai kembali menuju Sendang Derajat. Jalan menuju sendang derajat trlihat seperti jalan tol yang lurus dan jalannya juga enak tidak ada tangga lagi, di perjalanan menuju Sendang Derajat  kami masih ditemani oleh kabut, mungkin jika cerah pemandangan perjalan menuju Sendang Drajat akan terlihat indah. Di perjalanan menuju Sendang Derajat saya juga berdoa dalam hati semoga warung disana masih buka dan persediaan makanan masih ada amien. Beruntungnya kami setelah sampai sendang derajat warung nya masih buka walaupun menunya tinggal pop mie dan teh tubruk. Tas pun saya taruh kemudian memerdekakan punggung sejenak. Sempat juga berfoto dengan anak dari pemilik warung. Di Sendang Derajat ada bangunan semacam  pendopo mungkin ini salah satu tempat yag digunakan untuk tirakat atau semedi. Selain ada warung di sendang derajat juga ada kamar mandi.img_2501

img_2507Perjalanan di mulai kembali setelah kami selesai makan popmie ditambah nasi dengan porsi yang  wauow. Tujuan selanjutnya langsung ke puncak karena warung Mbok Yem juga tidak buka dah kalau ke warung Mbok Yem memutarnya terlalu jauh. Pucuk pucuk pucuk mungkin kata-kata itu yang ada di dalam hati saat melewati tanjakan yang lumayan seru saat hampir sampai puncak, sekilas pemandangan disini mirip dengan pemandangan yamg ada di Gunung Merbabu. Banyak juga bunga edelweis yang akan mekar. Langkah demi langkah ngos ngosan demi ngosngosan dah pada akhirnya kami sampai juga di puncak.

_ag72236

Bisa dibilang waktu kami sampai puncak adalah waktu yang pas, karena tidak begitu lama kami sampai puncak sudah sunset. Angin saat di puncak juga wus wus wus. Rencana awal adalah setelah sampai di puncak kemudian turun ke Suryo Kencono dan mendirikan tenda kemudian mengabadikan keindahan malam disana, tetapi melihat keadaan kami memilih mendirikan di sekitar puncak, alasan lain kami memilih mendirikan di sekirar puncak adalah karena belum banyak foto milkyway di puncak gunung, jadi ya sekalianlah.

_ag72304Kami mencari lahan yang asyik buat mendirikan tenda dan tidak terlalu jauh dari puncak. Akhirnya dapat juga yang sesuai dengan keinginan. Setelah tenda berhasil berdiri kami kembali puncak untuk mengabadikan milkyway, milkyway bulan-bulan seperti ini sudah bisa dilihat tidak lama setelah matahari terbenam. Mari memotret lagi…

_ag72309Berhubung badan mulai kedinginan karena angin di puncak juga wus wus wus dan ritual memotret juga sudah selesai kami kembali ke tenda lagi untuk menghangatkan badan, mengisi kembali batrai dan lain-lain. menjelang tengah malam kami keluar lagi untuk memotret milkyway lagi di sekitar tenda dan dipuncak lagi. Saat menunggu timelapse kenapa tiba-tiba perut mendadak sakit sepertinya mau pup, duh bagaimana ini? jalan satu satunya adalah harus di keluarkan, sebenarnya tidak masalah pup di gunung asalkan tahu tata caranya agar tidak menyusahkan yang lain. Tetapi seru juga lho pup di atas gunung, sensasinya itu lho,,, dingin-dingin gimana, apalagi di tambah bisa melihat milkyway, di kota mana bisa seperti ini, wakakakakaka.

Bersambung ke  bagian ke 2

Advertisements

5 thoughts on “Perjalanan Mengabadikan Keindahan Gunung Lawu (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s