Melihat Tradisi Saparan Bekakak

_ag79351Yogyakarta memang memiliki banyak kebudayaan yang unik sebagai contohnya masyarakat Ambarketawang, Gamping, Sleman, Yogyakarta mempunyai upacara adat yang disebut Bekakak atau upacara adat Saparan Bekakak (karena dalam pelaksanaannya selalu jatuh pada bulan Sapar dalam kalender Jawa).

Cerita singkat bagaimana asal mula terjadinya tradisi saparan bekakak. Sekitar tahun 1755 Sri Sultan Hamengku Buwono I yang pada masa itu masih bergelar Pangeran Mangkubumi sedang membangun Keraton yang saat ini berada di kotamadya, sambil mengawasi pembangunan keraton, Pangeran Mangkubumi tinggal di pesanggrahan yang berada di Ambarketawang bersama abdinya yang setia yakni Kyai Wirasuta yang disebut juga dhalem kinasih yang artinya abdi yang dikasihi. Daerah gunung Gamping sendiri adalah pegunungan batu kapur yang dimanfaatkan masyarakat sekitar sebagai mata pencaharian pengumpul batu kapur. Setelah pembangunan keraton selesai, Pangeran Mangkubumi beserta abdi dhalem hendak kembali ke keraton, namun Kyai Wirasuta beserta istrinya memilih tetap tinggal di pesanggarahan tersebut. Akhirnya Pangeran Mangkubumi pun pindah ke keraton dan bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I. Malapetaka tak diduga terjadi, pada hari Jumat Kliwon di bulan Sapar, Gunung Gamping tempat tinggal sang abdi dhalem kinasih runtuh dan menewaskan kedua abdi dhalem tersebut. Kabar runtuhnya Gunung Gamping sampai ke telinga Sri Sultan yang kemudian memerintahkan para prajuritnya menggali reruntuhan dan mencari jasad abdi dhalemnya. Namun keanehan terjadi, ketika seluruh longsoran berhasil di singkirkan, jasad kedua abdi dhalem tak ditemukan. Masyarakat setempat meyakini Kyai dan Nyai Wirasuta muksa atau menghilang dan masih menempati Gunung Gamping hingga saat ini. Seiring berjalannya waktu, masyarakat Ambarketawang diresahkan dengan terjadinya musibah yang serupa setiap bulan Sapar dimana para pekerja tertimbun runtuhan gunung. Menanggapi keresahan masyarkat, Sri Sultan menitahkan untuk mengadakan upacara ritual setiap bulan Sapar dengan menyembelih sepasang pengantin Bekakak di pesanggrahan Gunung Gamping untuk menolak bala dan menjauhkan masyarakat dari musibah. Versi lain menyebutkan bahwa tradisi penyembelihan bekakak ini juga sebagai tipu muslihat untuk menipu setan-setan jahat yang ada di gunung gamping agar tidak mengganggu ataupun meminta korban.
_ag79259Pada kamis pagi warga desa Ambarketawang sudah mulai ramai di rumah dukuh Ambarketawang untuk membuat boneka pengantin, sesajen, dan uborampe lainnya. Ada 2 pasang boneka pengantin yang dibuat, 1 pasang pengantin bergaya Jogja dan 1 pasang boneka pengantin bergaya Solo. Boneka bekakak terbuat dari beras ketan, proses pembuatan boneka pengantin memakan waktu yang lumayan lama, biasanya akan sampai sore (mungkin karena detailnya). Sementara bapak-bapak membuat boneka pengantin, ibu-ibu di dapur mempersiapkan aneka sesaji dan makanan yang akan digunakan untuk acara besok. Disaat pembuatan boneka bekakak akan didengarkan gending-gending (musik) khas orang mantenan, mirip seperti nikahan sungguhan. Setelah semuanya siap boneka pengantin dan uborampe akan dibawa ke Balai Desa Ambarketawang dan besok pagi akan di arak menuju Gunung Gamping.

_ag79577

_ag79626Keesokan harinya pengantin bekakak akan di arak mengelilingi Desa Ambarketawang menuju Gunung Gamping dan Gunung Killing (kampus stikes). Sebelum prosesi arak-arakan dimulai akan dipentaskan tarian yang menceritakan kisah asal mula terjadinya tradisi saparan bekakak. Setelah pementasan selesai arak-arakan akan dimulai, selain pasangan pengantin bekakak dan 3 buah joli yang berisi sesajen, kirap juga di ikuti oleh pamong desa, bergodo-bergodo dari setiap desa, komunitas seni dan tentu saja genderuwo.

_ag79671Setelah sampai dilokasi penyembelihan pengantin bekakak akan di bawa ke altar penyembeliahan Gunung Gamping maupun Gunung Killing. Setelah itu pengantin bekakak akan di sembelih. Setelah penyembelihan boneka pengantin acara Saparan Bekakak akan di tutup dengan perayahan (merebut) gunungan ataupun boneka pengantin oleh pengunjung.

_ag79769

_ag79817

_ag79849

Advertisements

3 thoughts on “Melihat Tradisi Saparan Bekakak

  1. Menarik ya. Ada banyak ritual seperti ini di Jogja, karena minimnya publikasi, tak banyak yang tau. Salah satunya Saparan Bekakak.

    Saya baru tau dari tulisan ini. 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s