Kerajinan Tanduk Kotagede

j

Apa yang ada dibenak kalian apabila mendengar kata tanduk? Mungkin sesuatu yang tajam dan dapat membuat terluka? Atau teringat dengan beberapa nama binatang? Yup memang benar itu tidak salah, tetapi tanduk kali ini ada hubungannya dengan Kotagede. Kotagede selama ini sangat terkenal dengan kerajinan peraknya, namun ternyata di Kotagede juga menyimpan kerajinan yang lain misalnya kerajinan tembaga, makanan, dan kerajinan tanduk, dan untuk kali ini yang saya di bahas adalah kerajinan tanduk.

g

Kerajinan tanduk merupakan kerajinan tradisional yang menggunakan bahan baku dari tanduk, untuk membuat berbagai macam alat atau barang-barang kerajinan yang tidak hanya digunakan untuk pajangan atau aksesoris saja, tetapi juga barang-barang untuk menunjang keperluan sehari-hari diantaranya adalah sisir, gelang, penggaruk badan, frame kacamata tetapi selain untuk kebutuhan sehari-hari ada juga peralatan untuk medis diantaranya sendok obat, alat pemijat, dll. Tanduk yang dipakai adalah tanduk kerbau dan sapi. tanduk kerbau biasanya memiliki harga yang lebih mahal karena tanduk kerbau memiliki kualitas yang lebih bagus dan bahan lebih sulit didapat. Tanduk-tanduk ini berasal dari, Bali, Sumatra, Jawa Timur.

d

c

Proses pengolahan tanduk cukup sederhana. Sebelum diolah menjadi centong nasi misalnya, tanduk dibelah di bakar agar lembut. Kemudian di pres sehingga menjadi lempengan lurus. Barulah setelah itu dibuat pola sesuai pesanan dan dipotong dengan gergaji. Setelah itu dihaluskan dengan menggunakan patar semacam alat kikir baru dibakar sebelum dicetak. Pola gagang dibuat jika bentuk kasar sudah jadi. Caranya, mengambar polanya dengan menjepit di tanggem. Setelah digergaji mengikuti pola, centong yang sudah jadi dikerok seluruh permukaannya untuk menghilangkan sisa kulit tanduk kasar. Kemudian dihaluskan dengan menggunakan daun perlas. Untuk menimbulkan warna mengkilat, centong dipoles.

k

Kerajinan tanduk sekarang memang tidak begitu banyak terdengar karena menag sudah sangat sedikt sekali pengrajinnya, salah satu pengrajin yang masih bertahan adalah Pak Harto Mulyono, Laki-laki berumur kurang lebih 75 tahun ini memiliki usaha kerajinan ini sejak tahun 1972 dan berproduksi di Gedongan, Kalurahan Purbayan Kotagede. Dahulu sekitar tahun 1974 sampai 1978 para pengrajin tanduk cukup banyak dan mengalami masa keemasan. tetapi sekarang nasib kerajinan tanduk ini bagaikan peribahasa ”Hidup segan mati tak mau”. Kelangkaan bahan baku, modal, dan kurangnya anak muda yang berminat belajar kerajinan tanduk ini. “Ya semoga kita tidak terlambat sadar bahwa kerajinan ini ada”

Enjoy Your Trip 🙂

Advertisements

4 thoughts on “Kerajinan Tanduk Kotagede

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s