Syahdunya berkunjung ke Lawang Sewu saat Malam hari

Sore ini Semarang ternyata tidak sepanas biasanya karena baru saja diguyur hujan yang lumayan lebat, syukurlah. Hujan berhenti menjelang mahrib, mungkin Tuhan tahu kalau kami sudah kelaparan. Warung Seblak yang tidak jauh dari kosan Ani adalah tujuan pertama kamu sebelum ke Lawang Sewu. Karena makanan pedas dan panas adalah pasangan yang pas dengan hujan dan dingin seperti saat ini. Seusai makan seblak kami berangkat menuju Lawang Sewu.

Setelah membeli tiket kami masuk, ternyata harga tiketnya sama dengan tiket siang, syukurlah. Awal masuk lumayan ada rasa takut karena cerita yang lebih banyak menjurus ke hororan lawing sewu, apa lagi ini malam hari :D. Semoga akan menyenangkan :D.

Lawang sewu terdiri dari 3 bangunan utama yang semuanya menjadi museum, tetapi tidak semua di buka untuk umum, salah satunya yang sudah tidak dibuka untuk umum adalah ruangan bawah tanah yang dahulu sempat di buka untuk umum (mungkin kalau masih dibuka, ruangan ini akan menjadi ruangan paling epic malam ini yang kami kunjungi). Didalam bangunan itu berisi foto, lukisan, miniatur, ya intinya isinya tentang sejarah perkereta api an indonesia.

Sedikit sejarah tentang Lawang Sewu, Bangunan Lawang Sewu dibangun pada 27 Februari 1904 dengan nama lain Het hoofdkantor van de Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (Kantor Pusat NIS). Awalnya kegiatan administrasi perkantoran dilakukan di Stasiun Semarang Gudang (Samarang NIS), namun dengan berkembangnya jalur jaringan kereta yang sangat pesat, mengakibatkan bertambahnya personil teknis dan tenaga administrasi yang tidak sedikit seiring berkembangnya administrasi perkantoran. Setelah kemerdekaan dipakai sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia. Selain itu pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Perhubungan Jawa Tengah. Pada masa perjuangan gedung ini memiliki catatan sejarah tersendiri yaitu ketika berlangsung peristiwa Pertempuran lima hari di Semarang (14 Oktober – 19 Oktober 1945). Gedung tua ini menjadi lokasi pertempuran yang hebat antara pemuda AMKA atau Angkatan Muda Kereta Api melawan Kempetai dan Kidobutai, Jepang. Maka dari itu Pemerintah Kota Semarang dengan Surat Keputusan Wali Kota Nomor. 650/50/1992, memasukan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno atau bersejarah di Kota Semarang yang patut dilindungi.

Mungkin ini sudah menjadi kebiasaan orang jawa menamakan segala sesuatu yang banyak dengan tambahan sewu (seribu), misalnya kaki seribu, lobang sewu, lawang sewu dll, walaupun jumlahnya jka di hitung kurang dari seribu. Setelah sepesai dan puas berkeliling dan berfoto dan kami melanjutkan perjalan kembali ke Klenteng Sam Poo Kong untuk melihat perayaan laksamana Ceng Ho di Semarag.

Overall perjalanan kami malam ini menyenangkan, ini menjadi pengalaman pertama saya mengunjungi Lawang Sewu saat malam hari dan ternyata ini lebih menyenangkan karena tidak panas. Entah kenapa saya lebih suka berkunjung saat malam hari entah kenapa, mungkin karena suasananya yang lebih sesuatu.

Travel Note:

Advertisements

Masangin, Permainan tradisional khas Alun-Alun Kidul

Jogja memang terkenal terkenal dengan budaya dan tradisinya, seperti kemarin saya baru saja melihat dan mengikuti tradisi Topo Bisu Lampah Mubeng Benteng Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Bagi kalian jika berkunjung ke alun-alun selatan (alkid) untuk sedar nongkrong, bermain sepeda lampu, ataupun pacaran tidak ada salahnya kalian juga mencoba tradisi atau permainan masangin, apa itu tradisi masangin? Continue reading